Kain Tenun Misris TM 03

Kain Tenun Misris TM 03

Tenun Ikat Rp Hub CS

Tenun Misris Indonesia

Tenun merupakan kain tradisional yang khas di hampir seluruh daerah Indonesia, mulai dari Jepara, Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara hingga Papua. Tenun memiliki makna, nilai sejarah, dan teknik yang tinggi dari segi warna, motif, dan jenis bahan, serta benang yang digunakan. Setiap daerah memiliki semua kekhasan itu. Erny Tallo, 2005 di dalam bukunya Pesona Tenun Flobamora menggolongkan tekhnik menenun ke dalam tiga kelompok, yaitu, tenun ikat, tenun buna, dan tenun lotis. Ketiga teknik yang diwariskan secara turun-temurun ini menghasilkan variasi jenis kain yang
mewakili tradisi setempat.

Motif Tenun

Motif yang dihasilkan pun cukup beragam mulai dari bentuk fauna (zoomorpic), figur manusia (antropomorph), stilisasi tumbuhan (flora), geometris serta replika ragam hias kain patola India. Untuk kain tenun Rote, hiasan motifnya bernuansa geometris dan motif tumbuhan dengan ukuran tertentu seperti motif kembang delapan, jelamprang, tangkai bunga dengan warna dasar hitam (Dula Nggeo) dikombinasikan dengan warna merah, putih dan biru hitam. Untuk kain tenun Sabu, motif yang dikembangkan bernuansa lingkungan flora dan fauna seperti motif bunga, daun lontar, burung, ayam dan kuda. Terlepas dari ragam motif tadi, kain tenun pada mulanya hanya berupa sarung (untuk perempuan) yang dibuat 2-3 bulan. Sementara selimut (untuk laki-laki) dibuat antara 5-6 bulan.

Harga Tenun

Harga kain tenun pun bervariasi, umumnya sebuah selendang berukuran 0,5 x 1,5 meter, harganya berkisar Rp 100 ribu Rp 175 ribu. Namun seiring bergantinya waktu, modifikasi tenun menghasilkan bermacam motif dan model, mulai dari bahan safari, aneka tas, taplak meja, bed cover, hiasan dinding, hingga aneka cinderamata lainnya.
Modifikasi Tenun
Modifikasi itu sesungguhnya dilakukan atas kesadaran, bahwa gaya hidup publik semakin tergerus, seiring gemerlap kehidupan anak muda yang terkepung budaya lainlebih tepatnya westernisasi. Lihat saja di desa-desa dan kampung-kampung Sumba, Jarang sekali terlihat anak muda tekun menenun. Yang tersisa hanya generasi senja yang jumlahnya semakin menyusut. Generasi penerus bangsa ini lebih memilih sibuk dengan cara khasnya, mulai dari berkirim pesan pendek sembari tersenyum sendiri, cekikikan, dan sejurus kemudian menangis sesenggukan, di depan HP dan layar komputer. Karenanya, sekalipun pemerintah Belanda tahun 2004, pernah menganugerahi Prince Claus Award pada tenun ikat NTT khususnya para penenun tradisional dari Kecamatan Biboki, Kabupaten Timor Tengah Utara. Dan mantan Gubernur NTT, Herman Musakabe, berbaik hati menjadikan tenun ikat sebagai pakaian seragam para PNS. Namun semua itu belum cukup kuat untuk mengembalikan tradisi tenun. kain tenun misris

Poskan Komentar

 
Support : Toko Furniture Jepara | Karimun Jawa
Copyright © 2011. Kain Tenun Ikat - Kualitas terbaik